Klik untuk Akses & Download |
Selama lebih dari 30 tahun Indonesia telah terjebak dalam Middle-Income Trap (MIT). Dengan pertumbuhan ekonomi yang terstagnasi di bawah 7%, Indonesia kesulitan untuk naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi. Hingga 2024, PDB per kapita Indonesia baru mencapai US$4.960,33, jauh dari ambang batas US$13.845 yang diperlukan untuk keluar dari MIT. Ketimpangan upah juga menjadi masalah, di mana rata-rata pekerja hanya menerima Rp2,94 juta per bulan, lebih rendah dari Malaysia dan Kamboja.
Di sisi lain, saat ini indonesia tengah menghadapi bonus demografi dan tentunya menjadi sinyal positif bagi Indonesia untuk bertransisi menjadi negara High-Income Country. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 76,48% populasi Indonesia berada dalam usia produktif kerja (14-64 tahun), namun sayangnya mayoritas angkatan kerja masih memiliki keterampilan rendah. 40% pekerja hanya lulusan SD, sedangkan lulusan sarjana hanya 9,31%, yang tak ayal menyebabkan tenaga kerja Indonesia sulit terserap ke industri bernilai tambah tinggi. Akibatnya, sektor informal tetap dominan, dan pertumbuhan ekonomi menjadi stagnan. Realitas tersebut malah diperparah oleh fakta bahwa Indonesia tengah mengalami deindustrialisasi prematur, dengan kontribusi manufaktur terhadap PDB turun dari 28% dua dekade lalu menjadi hanya 18,3% pada 2022.
Indonesia tentu perlu banyak belajar pada negara-negara yang berhasil memaksimalkan bonus demografi dan melepaskan diri dari jerat MIT. Negara seperti Korea Selatan yang berhasil keluar dari MIT patut menjadi teladan. Apa yang mereka lakukan? Ketika Korsel mendapat jatah bonus demografi mereka langsung berfokus pada investasi besar di sektor pendidikan, teknologi, dan pengembangan industri bernilai tambah tinggi.
Jika Indonesia gagal memaksimalkan momentum ini, maka Indonesia berisiko seperti Brasil, yang terjebak dalam MIT selama puluhan tahun dan gagal dalam memaksimalkan bonus demografi yang ada, sehingga bonus demografi hanya berujung pada meningkatnya jumlah penduduk tanpa membawa dampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi.
Lalu, apa yang perlu Indonesia lakukan agar dapat terbebas dari jerat middle-income trap? serta bagaimana peran pemerintah dan sektor industri dalam mendorong mewujudkan agenda Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi di masa depan? Temukan strategi lengkapnya dalam artikel ini dan pahami bagaimana Indonesia bisa keluar dari jebakan kelas menengah!
Disusun oleh:
Pratama Institute for Fiscal Policy & Governance Studies
Penanggung Jawab:
Ismail Khozen
Penulis:
Lambang Wiji Imantoro
Desain, Ilustrasi, & Tata Letak:
Umar Hanif Al Faruqy
Diterbitkan oleh:
PT Pratama Indomitra Konsultan
Antam Office Park Tower B lantai 8 Jl. TB Simatupang No. 1 Jakarta Selatan 12530 Indonesia
Telp: 62-21-2963.4945 (hunting), Faks: 62-21-2963.4946
E-mail: [email protected]
Website: www.pratamaindomitra.co.id