Kinerja ekonomi Indonesia sepanjang 2025 secara umum menghadirkan gambaran yang relatif menenangkan. Inflasi berada pada kisaran 2,5 hingga 2,86 persen, mencerminkan stabilitas harga yang terjaga. Pertumbuhan ekonomi mampu dipertahankan, sementara kebijakan moneter tetap diarahkan pada menjaga kredibilitas dan stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global. Dari perspektif makroekonomi, kombinasi indikator tersebut sering dibaca sebagai sinyal bahwa risiko krisis berada pada level yang relatif rendah.
Namun, stabilitas makro tidak selalu identik dengan kejelasan arah pertumbuhan. Di balik indikator agregat yang tampak solid, terdapat dinamika struktural yang memerlukan pembacaan lebih hati hati. Stabilitas dapat memberikan ruang bernapas bagi perekonomian, tetapi juga berpotensi menutupi persoalan mendasar yang belum terselesaikan, terutama yang berkaitan dengan kualitas pertumbuhan, pasar tenaga kerja, dan efektivitas kebijakan jangka menengah.
Dalam konteks ini, pertanyaan utama bukan lagi apakah ekonomi Indonesia stabil, melainkan seberapa kuat stabilitas tersebut mampu menopang pertumbuhan yang berkelanjutan. Tanpa pergeseran fokus dari sekadar menjaga keseimbangan jangka pendek, stabilitas berisiko menjadi kondisi statis yang tidak cukup mendorong transformasi struktural.
Pasar Tenaga Kerja dan Kualitas Penciptaan Kerja
Perbaikan pada indikator ketenagakerjaan menjadi salah satu sinyal yang perlu dibaca secara lebih kritis. Tingkat pengangguran terbuka tercatat menurun sebesar 0,6 persen dari tahun 2024 menjadi 4,85 persen pada Agustus 2025. Secara nominal, tren ini mencerminkan perbaikan pasar tenaga kerja dan peningkatan penyerapan angkatan kerja.
Namun, di balik penurunan tersebut, kualitas penciptaan lapangan kerja belum menunjukkan penguatan yang sepadan. Proporsi pekerja informal masih bertahan pada kisaran 59 hingga 60 persen dari total tenaga kerja Indonesia yang berjumlah sekitar 153,05 juta orang. Dengan demikian, sekitar 86 hingga 86,5 juta pekerja masih berada di sektor informal yang ditandai oleh tingkat perlindungan rendah, pendapatan yang tidak stabil, serta produktivitas yang terbatas.
Selain itu, jumlah pekerja dengan jam kerja di bawah standar atau setengah menganggur tetap signifikan, berada di kisaran 11,6 juta orang. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sebagian besar perbaikan penyerapan tenaga kerja bersifat kuantitatif, bukan kualitatif. Pekerjaan yang tercipta belum sepenuhnya mampu menyediakan jam kerja, pendapatan, dan kepastian yang memadai.
Pola penciptaan kerja juga cenderung terkonsentrasi pada sektor dengan produktivitas rendah dan volatilitas pendapatan tinggi. Dampaknya terlihat pada perbaikan upah riil dan daya beli rumah tangga yang masih menghadapi tantangan serius. Dalam periode 2018 hingga 2024, upah riil rata rata tercatat mengalami penurunan sekitar 1,1 persen per tahun. Penurunan ini terutama dialami oleh pekerja berkeahlian menengah hingga tinggi, sementara pekerja berkeahlian rendah hanya mengalami kenaikan yang sangat tipis.
Kombinasi ini menunjukkan bahwa penurunan pengangguran lebih banyak mencerminkan absorpsi tenaga kerja secara kuantitatif, bukan peningkatan kualitas kesempatan kerja. Tanpa perbaikan produktivitas dan kualitas pekerjaan, daya dorong konsumsi rumah tangga sebagai motor utama pertumbuhan berisiko melemah dalam jangka menengah.
Investasi Tinggi dengan Efisiensi yang Terbatas
Sinyal serupa juga terlihat pada dinamika investasi. Realisasi investasi sepanjang 2025 tercatat mencapai Rp1.434,3 triliun atau sekitar 75,3 persen dari target tahunan sebesar Rp1.905,6 triliun. Secara tahunan, investasi tumbuh sebesar 13,7 persen, dengan kontribusi Penanaman Modal Asing pada Triwulan II 2025 sebesar Rp202,2 triliun. Dari sudut pandang headline, angka ini mencerminkan daya tarik investasi Indonesia yang relatif kuat.
Namun, peningkatan volume investasi tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh perbaikan indikator produktivitas maupun daya serap tenaga kerja. Nilai Incremental Capital Output Ratio Indonesia pada 2023 tercatat sebesar 6,33. Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan modal yang relatif besar untuk menghasilkan tambahan output ekonomi, sekaligus mengindikasikan inefisiensi investasi yang lebih tinggi dibandingkan negara kawasan seperti Malaysia dengan ICOR sekitar 4,5 dan Vietnam sekitar 4,6.
Di sisi lain, penciptaan lapangan kerja per unit investasi relatif terbatas. Pola ini mencerminkan kecenderungan investasi yang bersifat padat modal atau terkonsentrasi pada sektor dengan keterkaitan domestik yang lemah. Akibatnya, dampak investasi terhadap ekonomi riil, khususnya dalam bentuk peningkatan produktivitas dan kualitas pekerjaan, menjadi kurang optimal.
Tanpa perubahan strategi menuju investasi yang lebih selektif dan berdaya ungkit tinggi, pertumbuhan ekonomi berisiko semakin bergantung pada akumulasi modal semata, bukan pada peningkatan kapasitas produktif yang berkelanjutan.
Stabilitas dan Ruang Kebijakan Menuju 2026
Stabilitas makroekonomi yang terjaga selama 2025 juga perlu dibaca dalam kaitannya dengan ruang kebijakan ke depan. Di satu sisi, stabilitas inflasi dan fiskal menciptakan ruang bagi pembuat kebijakan untuk mengelola risiko jangka pendek. Di sisi lain, ruang fiskal yang semakin terbatas menuntut agar setiap intervensi kebijakan memiliki efektivitas dan dampak jangka menengah yang lebih jelas.
Risiko risiko yang bersifat tertunda, baik pada sisi pasar tenaga kerja, daya beli kelas menengah, maupun efisiensi investasi, mengisyaratkan bahwa waktu menjadi variabel yang semakin penting. Penundaan keputusan strategis mungkin tidak langsung menimbulkan biaya hari ini, tetapi berpotensi mempersempit pilihan kebijakan di masa depan.
Membaca Ekonomi 2026 sebagai Fase Transisi
Jika dibaca secara menyeluruh, ekonomi Indonesia pada 2025 tidak menghadirkan gambaran krisis, tetapi juga belum sepenuhnya menawarkan kepastian arah. Stabilitas yang ada lebih tepat dipahami sebagai kondisi antara, bukan tujuan akhir. Dalam kerangka ini, 2026 dapat dibaca sebagai fase transisi yang krusial.
Bukan sebagai titik balik yang dramatis, melainkan periode di mana keputusan yang diambil secara bertahap akan sangat menentukan ketahanan jangka panjang perekonomian. Tantangan utama bukan terletak pada menjaga stabilitas jangka pendek, melainkan memastikan bahwa stabilitas tersebut digunakan sebagai landasan untuk membangun pertumbuhan yang lebih produktif, inklusif, dan tahan terhadap guncangan.
Analisis ini disusun untuk membantu membaca stabilitas ekonomi secara lebih utuh, dengan menimbang tidak hanya capaian agregat, tetapi juga implikasinya terhadap keberlanjutan pertumbuhan dan ruang kebijakan di masa depan. Dalam situasi di mana optimisme sering mendominasi narasi publik, pembacaan yang kritis dan berbasis data menjadi semakin relevan agar keputusan ekonomi hari ini tidak justru mempersempit pilihan di masa depan.
Laporan selengkapnya dapat diakses melalui tautan berikut ini: Lambang Wiji Imantoro










