Pratama-Kreston Tax Research Center
No Result
View All Result
Selasa, 28 April 2026
  • Login
  • Register
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
      • Survei Objek Pajak Daerah
      • Survey Efektivitas Penyuluhan Pajak Daerah
      • Survei Kepuasan Masyarakat
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami
  • INDONESIA
Pratama-Kreston Tax Research Center
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
      • Survei Objek Pajak Daerah
      • Survey Efektivitas Penyuluhan Pajak Daerah
      • Survei Kepuasan Masyarakat
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami
  • INDONESIA
Pratama-Kreston Tax Research Institute
No Result
View All Result

Membaca Sinyal Ekonomi 2025

Lambang Wiji ImantorobyLambang Wiji Imantoro
5 Januari 2026
in Analisis, Artikel
Reading Time: 5 mins read
130 4
A A
0
Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi

Sumber: Freepik

153
SHARES
1.9k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Kinerja ekonomi Indonesia sepanjang 2025 secara umum menghadirkan gambaran yang relatif menenangkan. Inflasi berada pada kisaran 2,5 hingga 2,86 persen, mencerminkan stabilitas harga yang terjaga. Pertumbuhan ekonomi mampu dipertahankan, sementara kebijakan moneter tetap diarahkan pada menjaga kredibilitas dan stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global. Dari perspektif makroekonomi, kombinasi indikator tersebut sering dibaca sebagai sinyal bahwa risiko krisis berada pada level yang relatif rendah.

Namun, stabilitas makro tidak selalu identik dengan kejelasan arah pertumbuhan. Di balik indikator agregat yang tampak solid, terdapat dinamika struktural yang memerlukan pembacaan lebih hati hati. Stabilitas dapat memberikan ruang bernapas bagi perekonomian, tetapi juga berpotensi menutupi persoalan mendasar yang belum terselesaikan, terutama yang berkaitan dengan kualitas pertumbuhan, pasar tenaga kerja, dan efektivitas kebijakan jangka menengah.

Dalam konteks ini, pertanyaan utama bukan lagi apakah ekonomi Indonesia stabil, melainkan seberapa kuat stabilitas tersebut mampu menopang pertumbuhan yang berkelanjutan. Tanpa pergeseran fokus dari sekadar menjaga keseimbangan jangka pendek, stabilitas berisiko menjadi kondisi statis yang tidak cukup mendorong transformasi struktural.

Pasar Tenaga Kerja dan Kualitas Penciptaan Kerja

Perbaikan pada indikator ketenagakerjaan menjadi salah satu sinyal yang perlu dibaca secara lebih kritis. Tingkat pengangguran terbuka tercatat menurun sebesar 0,6 persen dari tahun 2024 menjadi 4,85 persen pada Agustus 2025. Secara nominal, tren ini mencerminkan perbaikan pasar tenaga kerja dan peningkatan penyerapan angkatan kerja.

Namun, di balik penurunan tersebut, kualitas penciptaan lapangan kerja belum menunjukkan penguatan yang sepadan. Proporsi pekerja informal masih bertahan pada kisaran 59 hingga 60 persen dari total tenaga kerja Indonesia yang berjumlah sekitar 153,05 juta orang. Dengan demikian, sekitar 86 hingga 86,5 juta pekerja masih berada di sektor informal yang ditandai oleh tingkat perlindungan rendah, pendapatan yang tidak stabil, serta produktivitas yang terbatas.

Selain itu, jumlah pekerja dengan jam kerja di bawah standar atau setengah menganggur tetap signifikan, berada di kisaran 11,6 juta orang. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sebagian besar perbaikan penyerapan tenaga kerja bersifat kuantitatif, bukan kualitatif. Pekerjaan yang tercipta belum sepenuhnya mampu menyediakan jam kerja, pendapatan, dan kepastian yang memadai.

Pola penciptaan kerja juga cenderung terkonsentrasi pada sektor dengan produktivitas rendah dan volatilitas pendapatan tinggi. Dampaknya terlihat pada perbaikan upah riil dan daya beli rumah tangga yang masih menghadapi tantangan serius. Dalam periode 2018 hingga 2024, upah riil rata rata tercatat mengalami penurunan sekitar 1,1 persen per tahun. Penurunan ini terutama dialami oleh pekerja berkeahlian menengah hingga tinggi, sementara pekerja berkeahlian rendah hanya mengalami kenaikan yang sangat tipis.

Kombinasi ini menunjukkan bahwa penurunan pengangguran lebih banyak mencerminkan absorpsi tenaga kerja secara kuantitatif, bukan peningkatan kualitas kesempatan kerja. Tanpa perbaikan produktivitas dan kualitas pekerjaan, daya dorong konsumsi rumah tangga sebagai motor utama pertumbuhan berisiko melemah dalam jangka menengah.

Investasi Tinggi dengan Efisiensi yang Terbatas

Sinyal serupa juga terlihat pada dinamika investasi. Realisasi investasi sepanjang 2025 tercatat mencapai Rp1.434,3 triliun atau sekitar 75,3 persen dari target tahunan sebesar Rp1.905,6 triliun. Secara tahunan, investasi tumbuh sebesar 13,7 persen, dengan kontribusi Penanaman Modal Asing pada Triwulan II 2025 sebesar Rp202,2 triliun. Dari sudut pandang headline, angka ini mencerminkan daya tarik investasi Indonesia yang relatif kuat.

Namun, peningkatan volume investasi tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh perbaikan indikator produktivitas maupun daya serap tenaga kerja. Nilai Incremental Capital Output Ratio Indonesia pada 2023 tercatat sebesar 6,33. Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan modal yang relatif besar untuk menghasilkan tambahan output ekonomi, sekaligus mengindikasikan inefisiensi investasi yang lebih tinggi dibandingkan negara kawasan seperti Malaysia dengan ICOR sekitar 4,5 dan Vietnam sekitar 4,6.

Di sisi lain, penciptaan lapangan kerja per unit investasi relatif terbatas. Pola ini mencerminkan kecenderungan investasi yang bersifat padat modal atau terkonsentrasi pada sektor dengan keterkaitan domestik yang lemah. Akibatnya, dampak investasi terhadap ekonomi riil, khususnya dalam bentuk peningkatan produktivitas dan kualitas pekerjaan, menjadi kurang optimal.

Tanpa perubahan strategi menuju investasi yang lebih selektif dan berdaya ungkit tinggi, pertumbuhan ekonomi berisiko semakin bergantung pada akumulasi modal semata, bukan pada peningkatan kapasitas produktif yang berkelanjutan.

Stabilitas dan Ruang Kebijakan Menuju 2026

Stabilitas makroekonomi yang terjaga selama 2025 juga perlu dibaca dalam kaitannya dengan ruang kebijakan ke depan. Di satu sisi, stabilitas inflasi dan fiskal menciptakan ruang bagi pembuat kebijakan untuk mengelola risiko jangka pendek. Di sisi lain, ruang fiskal yang semakin terbatas menuntut agar setiap intervensi kebijakan memiliki efektivitas dan dampak jangka menengah yang lebih jelas.

Risiko risiko yang bersifat tertunda, baik pada sisi pasar tenaga kerja, daya beli kelas menengah, maupun efisiensi investasi, mengisyaratkan bahwa waktu menjadi variabel yang semakin penting. Penundaan keputusan strategis mungkin tidak langsung menimbulkan biaya hari ini, tetapi berpotensi mempersempit pilihan kebijakan di masa depan.

Membaca Ekonomi 2026 sebagai Fase Transisi

Jika dibaca secara menyeluruh, ekonomi Indonesia pada 2025 tidak menghadirkan gambaran krisis, tetapi juga belum sepenuhnya menawarkan kepastian arah. Stabilitas yang ada lebih tepat dipahami sebagai kondisi antara, bukan tujuan akhir. Dalam kerangka ini, 2026 dapat dibaca sebagai fase transisi yang krusial.

Bukan sebagai titik balik yang dramatis, melainkan periode di mana keputusan yang diambil secara bertahap akan sangat menentukan ketahanan jangka panjang perekonomian. Tantangan utama bukan terletak pada menjaga stabilitas jangka pendek, melainkan memastikan bahwa stabilitas tersebut digunakan sebagai landasan untuk membangun pertumbuhan yang lebih produktif, inklusif, dan tahan terhadap guncangan.

Analisis ini disusun untuk membantu membaca stabilitas ekonomi secara lebih utuh, dengan menimbang tidak hanya capaian agregat, tetapi juga implikasinya terhadap keberlanjutan pertumbuhan dan ruang kebijakan di masa depan. Dalam situasi di mana optimisme sering mendominasi narasi publik, pembacaan yang kritis dan berbasis data menjadi semakin relevan agar keputusan ekonomi hari ini tidak justru mempersempit pilihan di masa depan.

Laporan selengkapnya dapat diakses melalui tautan berikut ini: Lambang Wiji Imantoro

Tags: EkonomiOutlook
Share61Tweet38Send
Previous Post

“Pemeriksaan Pajak Berbasis Data: Apa yang Perlu Diantisipasi Wajib Pajak?”

Next Post

Memahami IFRS S1 Fondasi Pengungkapan Keberlanjutan

Lambang Wiji Imantoro

Lambang Wiji Imantoro

Related Posts

Ilustrasi lapior pajak
Artikel

Telat Lapor SPT, Kena Denda: Begini Cara Menghindarinya

17 April 2026
BBM Bersubsidi dan Ilusi Perlindungan Ekonomi
Analisis

BBM Bersubsidi dan Ilusi Perlindungan Ekonomi

7 April 2026
Thrifting dan Ilusi Keberlanjutan
Analisis

Thrifting dan Ilusi Keberlanjutan

7 April 2026
Ilustrasi gambar kelas pekerja
Analisis

Potret Sendu Nasib Pekerja Indonesia

6 April 2026
SPT PPh Badan
Artikel

Kerangka Sistem Perpajakan dalam Coretax Administration System

6 April 2026
Sudah Berlaku Sejak 2025, Kini Perseroan Wajib Melaporkan Laporan Tahunan Sesuai Permenkum 49/2025
Analisis

Sudah Berlaku Sejak 2025, Kini Perseroan Wajib Melaporkan Laporan Tahunan Sesuai Permenkum 49/2025

2 April 2026
Next Post
Memahami IFRS S1 Fondasi Pengungkapan Keberlanjutan

Memahami IFRS S1 Fondasi Pengungkapan Keberlanjutan

ilustrasi subjek dan objek pajak

Memahami Subjek dan Objek Pajak

Ilustrasi self assessment

Apa Itu Sistem Self Assessment dalam Pajak

Instansi Anda memerlukan jasa berupa kajian kebijakan fiskal, pajak dan retribusi daerah, penyusunan naskah akademik, ataupun jasa survei?

Atau, Perusahaan Anda membutuhkan pendampingan dalam menyusun Laporan Tahunan (Annual Report) atau Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report)?

Konsultasikan kepada ahlinya!

MULAI KONSULTASI

Popular News

  • Jika Suami Tidak Berpenghasilan, Berapa Besarnya PTKP Istri?

    Jika Suami Tidak Berpenghasilan, Berapa Besarnya PTKP Istri?

    1553 shares
    Share 621 Tweet 388
  • Batas Waktu Pengkreditan Bukti Potong PPh Pasal 23

    1113 shares
    Share 445 Tweet 278
  • Apakah Jasa Angkutan Umum Berplat Kuning Dikenai PPN?

    1006 shares
    Share 402 Tweet 252
  • Iuran BPJS dikenakan PPh Pasal 21?

    889 shares
    Share 356 Tweet 222
  • Apakah Pembelian Domain Website dikenakan PPh Pasal 23?

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
Copyright © 2025 PT Pratama Indomitra Konsultan

Pratama Institute

Logo Pratama Indomitra
  • Antam Office Tower B Lt 8 Jl. TB Simatupang No. 1 Jakarta Selatan Indonesia 12530
  • Phone : (021) 2963 4945
  • [email protected]
  • pratamaindomitra.co.id

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Sign Up with Google
OR

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami

© 2025 Pratama Institute - All Rights Reserved.