Pratama-Kreston Tax Research Center
No Result
View All Result
Kamis, 25 Juni 2026
  • Login
  • Register
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
      • Survei Objek Pajak Daerah
      • Survey Efektivitas Penyuluhan Pajak Daerah
      • Survei Kepuasan Masyarakat
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami
  • INDONESIA
Pratama-Kreston Tax Research Center
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
      • Survei Objek Pajak Daerah
      • Survey Efektivitas Penyuluhan Pajak Daerah
      • Survei Kepuasan Masyarakat
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami
  • INDONESIA
Pratama-Kreston Tax Research Institute
No Result
View All Result

Fenomena Doom Spending, Gen Z Pasrah Beli Rumah

Des Qinthara S TurfabyDes Qinthara S Turfa
22 Juni 2026
in Artikel
Reading Time: 4 mins read
132 1
A A
0
Rumah
152
SHARES
1.9k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Tren doom spending di kalangan Gen Z sebenarnya bukan sekadar masalah boros atau suka pamer. Mereka sadar bahwa nilai uang yang ditabung di bank lambat laun akan terus mengecil akibat tergerus inflasi. Ditambah lagi, saat ini biaya hidup terus naik, sementara kenaikan gaji para pekerja baru cenderung berjalan di tempat. Modal yang mereka miliki terlalu kecil untuk membeli investasi jangka panjang yang mahal, orientasi keuangan mereka pun berubah. Daripada menyimpan uang yang nilainya terus turun, mereka memilih menghabiskannya untuk membeli barang-barang kecil yang bisa langsung dinikmati saat ini seperti kopi, tiket konser, atau baju baru. Bagi mereka, ini adalah pilihan yang lebih masuk akal daripada menabung untuk sesuatu yang belum pasti tercapai di masa depan.

Doom spending adalah bentuk coping mechanism untuk meredakan stres akibat tekanan lingkungan. fenomena ini berkaitan erat dengan stress-shopping atau belanja emosional. Ketika Gen Z terus-menerus terpapar berita buruk tentang sulitnya mencari kerja, PHK massal, hingga harga rumah yang tidak masuk akal, otak mereka mengalami kelelahan mental. Untuk mengatasi rasa cemas dan tidak berdaya tersebut, mereka mencari “hadiah kecil” (micro-reward) yang bisa dikontrol dan dinikmati langsung saat ini juga. Bagi Gen Z, karena mereka tidak bisa mengontrol masa depan ekonomi yang makro, mereka memilih mengontrol kebahagiaan mereka sendiri hari ini lewat transaksi-transaksi kecil tersebut.

Ketika target masa depan (seperti membeli properti atau dana pensiun) terasa mustahil dicapai akibat daya beli yang terbatas, motivasi seseorang untuk menabung secara rasional akan runtuh. Alih-alih mengalami frustrasi karena menabung demi sesuatu yang tidak pasti, batin mereka melakukan kompensasi. Menghabiskan uang untuk barang konsumsi harian menjadi pilihan yang dianggap paling logis secara psikologis untuk mempertahankan “kualitas hidup” dan kewarasan mental di tengah ketidakpastian global.

 Menurunnya Keterjangkauan Hunian

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi bahwa indeks harga properti residensial di kawasan perkotaan, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan, terus merangkak naik. Lonjakan harga hunian ini tidak diimbangi oleh pertumbuhan upah pekerja muda di rentang usia 20–29 tahun yang cenderung berjalan di tempat. Laju kenaikan harga rumah di wilayah urban melesat jauh meninggalkan pertumbuhan gaji tahunan generasi muda. Di berbagai kota besar, harga rumah bahkan sudah menembus angka 10 hingga 15 kali lipat dari total pendapatan setahun pekerja muda. Sebuah angka yang jauh melampaui batas ideal rasio keterjangkauan hunian.

Ketimpangan ekonomi inilah yang memvalidasi mengapa target masa depan terasa begitu semu. Bank Indonesia dalam laporannya turut menyoroti penurunan tingkat keterjangkauan rumah (housing affordability) ini, terutama bagi generasi muda yang ingin membeli properti pertama mereka. Tingginya standar uang muka (down payment) serta beban cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bulanan menjadi tembok besar yang menghalangi Gen Z untuk melangkah ke pasar properti.

Tantangan finansial ini diperparah oleh lanskap dunia kerja yang telah berubah. Berbeda dengan generasi terdahulu, mayoritas Gen Z saat ini memulai karier di sektor informal, industri digital, atau terjebak dalam sistem kontrak jangka pendek (gig economy). Pola kerja seperti ini menghasilkan pendapatan yang fluktuatif, sehingga profil keuangan mereka sering kali tidak memenuhi kriteria credit scoring perbankan untuk pengajuan KPR.

Di sisi lain, kerasnya biaya hidup di perkotaan. Mulai dari sewa tempat tinggal sementara, ongkos transportasi, hingga pemenuhan kebutuhan digital yang terus mengikis kapasitas menabung mereka. Akibatnya, mengumpulkan dana untuk uang muka rumah menjadi misi yang sangat sulit diwujudkan, meskipun mereka sudah bekerja selama bertahun-tahun.

Kecemasan Finansial

Keterbatasan akses terhadap kepemilikan aset tersebut kemudian menciptakan tekanan baru yang lebih luas, yaitu meningkatnya beban mental akibat ketidakpastian ekonomi dan tuntutan sosial untuk mencapai stabilitas hidup.

Kondisi sulitnya menjangkau aset masa depan seperti rumah tinggal pada akhirnya memicu dampak psikososial yang mendalam di kalangan generasi muda. Tekanan untuk segera terlihat “mapan” di usia produktif kini berbenturan keras dengan realita ekonomi yang menjepit. Berdasarkan laporan global Deloitte Gen Z and Millennial Survey, masalah biaya hidup (cost of living) telah bergeser menjadi sumber kecemasan terbesar nomor satu bagi generasi ini. Riset tersebut mencatat fakta angka yang mengkhawatirkan, di mana sebanyak 46 persen Gen Z mengaku dirundung stres dan kecemasan akut hampir sepanjang waktu akibat kombinasi tekanan finansial harian dan ketakutan tidak bisa mapan.

Kecemasan finansial (financial anxiety) yang masif ini tidak lagi sekadar menjadi isu kesehatan mental personal, melainkan mulai memicu perubahan perilaku sosial yang nyata di Indonesia.

Di kawasan urban, kecemasan ini bermanifestasi dalam bentuk sindrom hidup dari gaji ke gaji (paycheck to paycheck), di mana generasi muda didera rasa cemas konstan karena upah bulanan mereka habis tak bersisa untuk biaya hidup harian tanpa ada ruang untuk menabung. Alih-alih digunakan untuk sektor produktif, pinjaman instan ini mayoritas habis untuk kebutuhan konsumtif non-primer sebagai kompensasi instan untuk membeli kebahagiaan hari ini.

Dengan demikian, akar persoalan yang dihadapi generasi muda tidak cukup dijawab melalui perubahan gaya hidup semata, melainkan membutuhkan ekosistem ekonomi yang mampu memberikan ruang bagi mereka untuk membangun masa depan secara berkelanjutan.

Menyelesaikan permasalahan yang menjebak generasi muda ini tentu tidak bisa bertumpu pada pundak Gen Z sendirian melalui pembatasan konsumsi semata. Dibutuhkan sinergi lintas sektor untuk mengurai benang kusut ini. Pemerintah perlu mengintervensi pasar perumahan lewat skema hunian vertikal terjangkau di pusat kota atau menyusun kebijakan upah riil yang lebih kompetitif demi mendongkrak daya beli.

Di saat yang sama, otoritas keuangan seperti OJK bersama institusi perbankan harus memperketat regulasi penyaluran kredit digital agar anak muda tidak mudah terjebak utang konsumtif, sekaligus menciptakan instrumen investasi mikro alternatif yang ramah bagi pelaku ekonomi sektor informal. Dari sisi pelaku industri, penyediaan kepastian jenjang karier dan upah yang layak bagi pekerja kontrak menjadi krusial. Pada akhirnya, semua stimulus eksternal ini baru akan berdampak jika Gen Z sendiri mau membuka diri untuk membenahi literasi finansial mereka, berani menekan ego konsumtif harian, dan mulai berkomitmen membangun portofolio masa depan yang baru.

Tags: cost of livingDoom SpendingGen ZRumah
Share61Tweet38Send
Previous Post

Penerimaan Pajak Melesat, Sinyal Ekonomi Menguat?

Next Post

Keuangan Indonesia 2026 Tertekan, Apa Penyebabnya?

Des Qinthara S Turfa

Des Qinthara S Turfa

Related Posts

Jasa titip
Artikel

Jastip Luar Negeri Terjepit Dua Arah

25 Juni 2026
Ilustrasi PKP menghitung pajak
Artikel

Syarat Menjadi PKP dan Kewajiban Fundamentalnya

24 Juni 2026
Rupiah melemah
Artikel

Keuangan Indonesia 2026 Tertekan, Apa Penyebabnya?

23 Juni 2026
Ilustrasi penerimaan pajak
Analisis

Penerimaan Pajak Melesat, Sinyal Ekonomi Menguat?

18 Juni 2026
ilustrasi green job
Analisis

Ekonomi Hijau dan Green Jobs: Studi Kasus Indonesia

17 Juni 2026
Ilustrasi pengusaha kena pajak
Analisis

Subjek Pajak dan Pengusaha Kena Pajak (PKP)

15 Juni 2026
Next Post
Rupiah melemah

Keuangan Indonesia 2026 Tertekan, Apa Penyebabnya?

Ilustrasi PKP menghitung pajak

Syarat Menjadi PKP dan Kewajiban Fundamentalnya

Jasa titip

Jastip Luar Negeri Terjepit Dua Arah

Instansi Anda memerlukan jasa berupa kajian kebijakan fiskal, pajak dan retribusi daerah, penyusunan naskah akademik, ataupun jasa survei?

Atau, Perusahaan Anda membutuhkan pendampingan dalam menyusun Laporan Tahunan (Annual Report) atau Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report)?

Konsultasikan kepada ahlinya!

MULAI KONSULTASI

Popular News

  • Jika Suami Tidak Berpenghasilan, Berapa Besarnya PTKP Istri?

    Jika Suami Tidak Berpenghasilan, Berapa Besarnya PTKP Istri?

    1564 shares
    Share 626 Tweet 391
  • Batas Waktu Pengkreditan Bukti Potong PPh Pasal 23

    1134 shares
    Share 454 Tweet 284
  • Apakah Jasa Angkutan Umum Berplat Kuning Dikenai PPN?

    1016 shares
    Share 406 Tweet 254
  • Iuran BPJS dikenakan PPh Pasal 21?

    914 shares
    Share 366 Tweet 229
  • Apakah Pembelian Domain Website dikenakan PPh Pasal 23?

    894 shares
    Share 358 Tweet 224
Copyright © 2025 PT Pratama Indomitra Konsultan

Pratama Institute

Logo Pratama Indomitra
  • Antam Office Tower B Lt 8 Jl. TB Simatupang No. 1 Jakarta Selatan Indonesia 12530
  • Phone : (021) 2963 4945
  • [email protected]
  • pratamaindomitra.co.id

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Sign Up with Google
OR

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami

© 2025 Pratama Institute - All Rights Reserved.