Tren doom spending di kalangan Gen Z sebenarnya bukan sekadar masalah boros atau suka pamer. Mereka sadar bahwa nilai uang yang ditabung di bank lambat laun akan terus mengecil akibat tergerus inflasi. Ditambah lagi, saat ini biaya hidup terus naik, sementara kenaikan gaji para pekerja baru cenderung berjalan di tempat. Modal yang mereka miliki terlalu kecil untuk membeli investasi jangka panjang yang mahal, orientasi keuangan mereka pun berubah. Daripada menyimpan uang yang nilainya terus turun, mereka memilih menghabiskannya untuk membeli barang-barang kecil yang bisa langsung dinikmati saat ini seperti kopi, tiket konser, atau baju baru. Bagi mereka, ini adalah pilihan yang lebih masuk akal daripada menabung untuk sesuatu yang belum pasti tercapai di masa depan.
Doom spending adalah bentuk coping mechanism untuk meredakan stres akibat tekanan lingkungan. fenomena ini berkaitan erat dengan stress-shopping atau belanja emosional. Ketika Gen Z terus-menerus terpapar berita buruk tentang sulitnya mencari kerja, PHK massal, hingga harga rumah yang tidak masuk akal, otak mereka mengalami kelelahan mental. Untuk mengatasi rasa cemas dan tidak berdaya tersebut, mereka mencari “hadiah kecil” (micro-reward) yang bisa dikontrol dan dinikmati langsung saat ini juga. Bagi Gen Z, karena mereka tidak bisa mengontrol masa depan ekonomi yang makro, mereka memilih mengontrol kebahagiaan mereka sendiri hari ini lewat transaksi-transaksi kecil tersebut.
Ketika target masa depan (seperti membeli properti atau dana pensiun) terasa mustahil dicapai akibat daya beli yang terbatas, motivasi seseorang untuk menabung secara rasional akan runtuh. Alih-alih mengalami frustrasi karena menabung demi sesuatu yang tidak pasti, batin mereka melakukan kompensasi. Menghabiskan uang untuk barang konsumsi harian menjadi pilihan yang dianggap paling logis secara psikologis untuk mempertahankan “kualitas hidup” dan kewarasan mental di tengah ketidakpastian global.
Menurunnya Keterjangkauan Hunian
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi bahwa indeks harga properti residensial di kawasan perkotaan, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan, terus merangkak naik. Lonjakan harga hunian ini tidak diimbangi oleh pertumbuhan upah pekerja muda di rentang usia 20–29 tahun yang cenderung berjalan di tempat. Laju kenaikan harga rumah di wilayah urban melesat jauh meninggalkan pertumbuhan gaji tahunan generasi muda. Di berbagai kota besar, harga rumah bahkan sudah menembus angka 10 hingga 15 kali lipat dari total pendapatan setahun pekerja muda. Sebuah angka yang jauh melampaui batas ideal rasio keterjangkauan hunian.
Ketimpangan ekonomi inilah yang memvalidasi mengapa target masa depan terasa begitu semu. Bank Indonesia dalam laporannya turut menyoroti penurunan tingkat keterjangkauan rumah (housing affordability) ini, terutama bagi generasi muda yang ingin membeli properti pertama mereka. Tingginya standar uang muka (down payment) serta beban cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bulanan menjadi tembok besar yang menghalangi Gen Z untuk melangkah ke pasar properti.
Tantangan finansial ini diperparah oleh lanskap dunia kerja yang telah berubah. Berbeda dengan generasi terdahulu, mayoritas Gen Z saat ini memulai karier di sektor informal, industri digital, atau terjebak dalam sistem kontrak jangka pendek (gig economy). Pola kerja seperti ini menghasilkan pendapatan yang fluktuatif, sehingga profil keuangan mereka sering kali tidak memenuhi kriteria credit scoring perbankan untuk pengajuan KPR.
Di sisi lain, kerasnya biaya hidup di perkotaan. Mulai dari sewa tempat tinggal sementara, ongkos transportasi, hingga pemenuhan kebutuhan digital yang terus mengikis kapasitas menabung mereka. Akibatnya, mengumpulkan dana untuk uang muka rumah menjadi misi yang sangat sulit diwujudkan, meskipun mereka sudah bekerja selama bertahun-tahun.
Kecemasan Finansial
Keterbatasan akses terhadap kepemilikan aset tersebut kemudian menciptakan tekanan baru yang lebih luas, yaitu meningkatnya beban mental akibat ketidakpastian ekonomi dan tuntutan sosial untuk mencapai stabilitas hidup.
Kondisi sulitnya menjangkau aset masa depan seperti rumah tinggal pada akhirnya memicu dampak psikososial yang mendalam di kalangan generasi muda. Tekanan untuk segera terlihat “mapan” di usia produktif kini berbenturan keras dengan realita ekonomi yang menjepit. Berdasarkan laporan global Deloitte Gen Z and Millennial Survey, masalah biaya hidup (cost of living) telah bergeser menjadi sumber kecemasan terbesar nomor satu bagi generasi ini. Riset tersebut mencatat fakta angka yang mengkhawatirkan, di mana sebanyak 46 persen Gen Z mengaku dirundung stres dan kecemasan akut hampir sepanjang waktu akibat kombinasi tekanan finansial harian dan ketakutan tidak bisa mapan.
Kecemasan finansial (financial anxiety) yang masif ini tidak lagi sekadar menjadi isu kesehatan mental personal, melainkan mulai memicu perubahan perilaku sosial yang nyata di Indonesia.
Di kawasan urban, kecemasan ini bermanifestasi dalam bentuk sindrom hidup dari gaji ke gaji (paycheck to paycheck), di mana generasi muda didera rasa cemas konstan karena upah bulanan mereka habis tak bersisa untuk biaya hidup harian tanpa ada ruang untuk menabung. Alih-alih digunakan untuk sektor produktif, pinjaman instan ini mayoritas habis untuk kebutuhan konsumtif non-primer sebagai kompensasi instan untuk membeli kebahagiaan hari ini.
Dengan demikian, akar persoalan yang dihadapi generasi muda tidak cukup dijawab melalui perubahan gaya hidup semata, melainkan membutuhkan ekosistem ekonomi yang mampu memberikan ruang bagi mereka untuk membangun masa depan secara berkelanjutan.
Menyelesaikan permasalahan yang menjebak generasi muda ini tentu tidak bisa bertumpu pada pundak Gen Z sendirian melalui pembatasan konsumsi semata. Dibutuhkan sinergi lintas sektor untuk mengurai benang kusut ini. Pemerintah perlu mengintervensi pasar perumahan lewat skema hunian vertikal terjangkau di pusat kota atau menyusun kebijakan upah riil yang lebih kompetitif demi mendongkrak daya beli.
Di saat yang sama, otoritas keuangan seperti OJK bersama institusi perbankan harus memperketat regulasi penyaluran kredit digital agar anak muda tidak mudah terjebak utang konsumtif, sekaligus menciptakan instrumen investasi mikro alternatif yang ramah bagi pelaku ekonomi sektor informal. Dari sisi pelaku industri, penyediaan kepastian jenjang karier dan upah yang layak bagi pekerja kontrak menjadi krusial. Pada akhirnya, semua stimulus eksternal ini baru akan berdampak jika Gen Z sendiri mau membuka diri untuk membenahi literasi finansial mereka, berani menekan ego konsumtif harian, dan mulai berkomitmen membangun portofolio masa depan yang baru.










