Pratama-Kreston Tax Research Center
No Result
View All Result
Sabtu, 20 Juni 2026
  • Login
  • Register
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
      • Survei Objek Pajak Daerah
      • Survey Efektivitas Penyuluhan Pajak Daerah
      • Survei Kepuasan Masyarakat
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami
  • INDONESIA
Pratama-Kreston Tax Research Center
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
      • Survei Objek Pajak Daerah
      • Survey Efektivitas Penyuluhan Pajak Daerah
      • Survei Kepuasan Masyarakat
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami
  • INDONESIA
Pratama-Kreston Tax Research Institute
No Result
View All Result

Ekonomi Hijau dan Green Jobs: Studi Kasus Indonesia

Lambang Wiji ImantorobyLambang Wiji Imantoro
17 Juni 2026
in Analisis, Artikel, ESG
Reading Time: 4 mins read
132 1
A A
0
ilustrasi green job

Sumber: Freepik

152
SHARES
1.9k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan selama bertahun-tahun sering dipandang sebagai dua tujuan yang saling bertentangan. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, semakin besar eksploitasi sumber daya alam yang terjadi. Sebaliknya, semakin ketat kebijakan lingkungan, semakin besar kekhawatiran terhadap perlambatan investasi dan berkurangnya lapangan kerja. ekonomi hijau

Namun pengalaman Uni Eropa menunjukkan narasi yang berbeda. Transisi menuju ekonomi hijau justru melahirkan sektor ekonomi baru yang mampu menciptakan jutaan pekerjaan berkualitas atau green jobs. Fenomena tersebut menjadi bukti bahwa dekarbonisasi bukan sekadar agenda lingkungan, tetapi strategi pembangunan ekonomi masa depan. Pertanyaannya, apakah Indonesia dapat mengikuti jejak tersebut?

Green Jobs dan Masa Depan Dunia Kerja

Green jobs merupakan pekerjaan yang berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan, pengurangan emisi karbon, peningkatan efisiensi energi, serta pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Pekerjaan ini tidak hanya berada pada sektor energi terbarukan, tetapi juga meluas ke industri manufaktur, transportasi, konstruksi hijau, pengelolaan limbah, pertanian berkelanjutan, hingga sektor jasa dan konsultansi.

Pertumbuhan green jobs di Eropa menunjukkan bahwa investasi hijau mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Di tengah transformasi global menuju ekonomi rendah karbon, permintaan terhadap tenaga kerja dengan kompetensi hijau meningkat jauh lebih cepat dibandingkan ketersediaannya. Fenomena tersebut juga mulai terlihat di Indonesia.

Pemerintah melalui Bappenas memperkirakan jumlah tenaga kerja hijau di Indonesia mencapai sekitar 4 juta orang pada 2025 atau sekitar 2,7 persen dari total angkatan kerja. Dalam skenario pertumbuhan ekonomi yang tinggi, jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi lebih dari 5,3 juta orang pada 2029. Bahkan sekitar 56 juta pekerjaan eksisting diperkirakan memiliki potensi untuk bertransformasi menjadi pekerjaan hijau melalui peningkatan keterampilan dan adopsi teknologi baru. Proyeksi lain dari Bappenas menyebutkan bahwa peluang green jobs dapat mencapai sekitar 4,7–5 juta pekerjaan hingga 2029, mencakup sektor energi, industri, pengelolaan limbah, dan transportasi berkelanjutan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa ekonomi hijau bukan lagi isu idealistis, melainkan peluang ekonomi yang nyata. Indonesia memiliki modal yang sangat besar. Potensi energi surya, panas bumi, hidro, biomassa, hingga mineral kritis untuk baterai kendaraan listrik menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang berpotensi menjadi pemain utama dalam rantai pasok ekonomi hijau global.

Hilirisasi nikel, pengembangan kendaraan listrik, biodiesel, pembangunan pembangkit energi baru terbarukan, hingga implementasi ekonomi sirkular membuka ruang bagi lahirnya berbagai profesi baru yang sebelumnya belum banyak dikenal.

Ironisnya, tantangan terbesar Indonesia bukan terletak pada sumber daya alam, melainkan pada kesiapan sumber daya manusianya. Data Bappenas menunjukkan bahwa berdasarkan Sakernas 2022, baru sekitar 2,6 persen pekerja Indonesia atau sekitar 3,45 juta orang yang dapat dikategorikan sebagai tenaga kerja hijau. Sementara itu, 36,5 persen tenaga kerja lainnya sebenarnya memiliki potensi menjadi green workers apabila memperoleh pelatihan dan peningkatan kompetensi yang memadai. Artinya, kesenjangan keterampilan (green skills gap) menjadi persoalan utama.

Transformasi industri menuju ekonomi hijau membutuhkan kompetensi baru seperti efisiensi energi, teknologi produksi bersih, pengelolaan karbon, ekonomi sirkular, digitalisasi industri, hingga analisis keberlanjutan. Sayangnya, sistem pendidikan dan pelatihan vokasi di Indonesia belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

Di sisi lain, berbagai laporan global menunjukkan bahwa pekerjaan hijau cenderung menawarkan produktivitas dan tingkat upah yang lebih tinggi dibanding pekerjaan konvensional karena membutuhkan kompetensi yang lebih spesifik.

Ekonomi Hijau Tidak Boleh Berhenti pada Infrastruktur

Selama ini diskursus ekonomi hijau di Indonesia sering kali berfokus pada pembangunan PLTS, kendaraan listrik, biodiesel, atau proyek transisi energi. Padahal fondasi yang tidak kalah penting adalah pembangunan manusianya.

Negara-negara Eropa tidak hanya membangun infrastruktur hijau, tetapi juga mengembangkan sistem pendidikan, sertifikasi kompetensi, riset, inovasi, dan pasar tenaga kerja yang mendukung transformasi tersebut. Green economy pada akhirnya adalah transformasi ekosistem, bukan sekadar pergantian sumber energi.

Indonesia pun mulai bergerak ke arah tersebut melalui penyusunan Roadmap Pengembangan Tenaga Kerja Hijau, yang menempatkan delapan sektor prioritas sebagai penggerak penciptaan lapangan kerja masa depan.

Namun implementasinya membutuhkan sinergi lintas kementerian, dunia usaha, perguruan tinggi, dan lembaga pelatihan agar standar kompetensi hijau dapat diterapkan secara luas.

Momentum Bonus Demografi

Dalam satu dekade ke depan, Indonesia masih menikmati bonus demografi dengan dominasi usia produktif. Momentum ini seharusnya dimanfaatkan untuk membangun tenaga kerja yang siap menghadapi transformasi ekonomi global. Jika tidak, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar bagi produk hijau dunia, sementara nilai tambah dan pekerjaan berkualitas justru dinikmati negara lain.

Sebaliknya, apabila investasi hijau dibarengi dengan pengembangan SDM, pendidikan vokasi, serta kebijakan industri yang tepat, ekonomi hijau dapat menjadi mesin pertumbuhan baru yang tidak hanya meningkatkan daya saing nasional, tetapi juga menciptakan jutaan lapangan kerja berkualitas.

Pengalaman Uni Eropa memberikan pelajaran penting bahwa agenda keberlanjutan tidak identik dengan pengorbanan pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, transisi menuju ekonomi rendah karbon dapat menjadi sumber inovasi, investasi, dan penciptaan lapangan kerja baru.

Bagi Indonesia, peluang tersebut terbuka lebar. Tantangan sesungguhnya bukan pada minimnya potensi, melainkan pada kemampuan menyiapkan tenaga kerja yang mampu mengisi kebutuhan ekonomi masa depan. Dengan kata lain, keberhasilan ekonomi hijau Indonesia tidak hanya akan diukur dari berapa banyak pembangkit energi terbarukan yang dibangun atau kendaraan listrik yang diproduksi, tetapi juga dari seberapa banyak generasi muda yang memperoleh pekerjaan layak melalui transformasi hijau tersebut. Di era persaingan global yang semakin ketat, green jobs bukan sekadar tren ketenagakerjaan, melainkan investasi strategis bagi daya saing dan kesejahteraan Indonesia di masa depan.

Tags: Ekonomi hijauGreen jobs
Share61Tweet38Send
Previous Post

Subjek Pajak dan Pengusaha Kena Pajak (PKP)

Next Post

Penerimaan Pajak Melesat, Sinyal Ekonomi Menguat?

Lambang Wiji Imantoro

Lambang Wiji Imantoro

Related Posts

Ilustrasi penerimaan pajak
Analisis

Penerimaan Pajak Melesat, Sinyal Ekonomi Menguat?

18 Juni 2026
Ilustrasi pengusaha kena pajak
Analisis

Subjek Pajak dan Pengusaha Kena Pajak (PKP)

15 Juni 2026
Pajak
Artikel

Kapan Kita Harus Mengenal Pajak?

12 Juni 2026
Swasembada Pangan
Artikel

Hulu Ledak Inflasi di Piring Makan Kita

11 Juni 2026
ESG Disclosure
Artikel

Dampak ESG Rating terhadap Perusahaan dan Investor

10 Juni 2026
ESG and Investment
Artikel

Bagaimana ESG Disclosure Memengaruhi Kinerja Perusahaan

9 Juni 2026
Next Post
Ilustrasi penerimaan pajak

Penerimaan Pajak Melesat, Sinyal Ekonomi Menguat?

Instansi Anda memerlukan jasa berupa kajian kebijakan fiskal, pajak dan retribusi daerah, penyusunan naskah akademik, ataupun jasa survei?

Atau, Perusahaan Anda membutuhkan pendampingan dalam menyusun Laporan Tahunan (Annual Report) atau Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report)?

Konsultasikan kepada ahlinya!

MULAI KONSULTASI

Popular News

  • Jika Suami Tidak Berpenghasilan, Berapa Besarnya PTKP Istri?

    Jika Suami Tidak Berpenghasilan, Berapa Besarnya PTKP Istri?

    1563 shares
    Share 625 Tweet 391
  • Batas Waktu Pengkreditan Bukti Potong PPh Pasal 23

    1133 shares
    Share 453 Tweet 283
  • Apakah Jasa Angkutan Umum Berplat Kuning Dikenai PPN?

    1016 shares
    Share 406 Tweet 254
  • Iuran BPJS dikenakan PPh Pasal 21?

    911 shares
    Share 364 Tweet 228
  • Apakah Pembelian Domain Website dikenakan PPh Pasal 23?

    893 shares
    Share 357 Tweet 223
Copyright © 2025 PT Pratama Indomitra Konsultan

Pratama Institute

Logo Pratama Indomitra
  • Antam Office Tower B Lt 8 Jl. TB Simatupang No. 1 Jakarta Selatan Indonesia 12530
  • Phone : (021) 2963 4945
  • [email protected]
  • pratamaindomitra.co.id

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Sign Up with Google
OR

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami

© 2025 Pratama Institute - All Rights Reserved.