Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian mengenai Environmental, Social, and Governance (ESG) mengalami perkembangan yang sangat pesat di berbagai negara dan sektor industri. Fenomena ini menunjukkan bahwa ESG telah menjadi bagian penting dalam strategi bisnis modern, seiring meningkatnya tuntutan regulator, investor, dan pemangku kepentingan terhadap praktik bisnis yang lebih transparan dan berkelanjutan (Zaccone & Pedrini, 2020).
Peningkatan perhatian terhadap ESG tidak terlepas dari perubahan ekspektasi pasar. Investor saat ini tidak lagi hanya menilai perusahaan berdasarkan kinerja keuangan, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana perusahaan mengelola dampak lingkungan, menjalankan tanggung jawab sosial, serta menerapkan tata kelola yang baik. Di saat yang sama, regulator di berbagai negara terus memperluas kewajiban pelaporan keberlanjutan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas perusahaan. Dalam konteks tersebut, ESG disclosure berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan kebutuhan regulator akan transparansi dengan kebutuhan investor akan informasi yang relevan untuk pengambilan keputusan investasi.
Perkembangan ini juga menunjukkan bahwa ESG telah melampaui fungsi tradisionalnya sebagai pengungkapan informasi nonkeuangan. ESG kini mencerminkan komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan, pengelolaan risiko, dan penciptaan nilai jangka panjang. Schiehll dan Kolahgar (2024) menjelaskan bahwa materialitas ESG yang berorientasi pada investor semakin penting, terutama dalam lingkungan bisnis yang ditandai oleh meningkatnya kepemilikan institusional dan kebutuhan akan transparansi yang lebih tinggi. Sementara itu, Marie et al. (2024) menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 mempercepat perkembangan penelitian ESG dan mengubah arah diskusi keberlanjutan secara global.
Krisis global juga memperlihatkan pentingnya ESG sebagai instrumen ketahanan perusahaan. Cepêda (2024) menemukan bahwa selama periode krisis, ruang lingkup pelaporan ESG cenderung semakin luas karena perusahaan dituntut untuk menunjukkan tanggung jawab sosial yang lebih besar dalam menghadapi tantangan ekonomi. Temuan tersebut diperkuat oleh Khanchel et al. (2023) yang menunjukkan bahwa ESG disclosure dan inovasi hijau (green innovation) berkontribusi positif terhadap kinerja perusahaan. Dengan kata lain, perusahaan yang mampu mengomunikasikan praktik keberlanjutan secara transparan cenderung memiliki peluang yang lebih besar untuk mencapai kinerja bisnis yang lebih baik.
Pentingnya ESG tidak hanya dirasakan oleh perusahaan di negara maju. Negara berkembang juga menghadapi tekanan yang semakin besar untuk menyesuaikan praktik pelaporan keberlanjutan dengan standar internasional. Penelitian Pratama et al. (2022) menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di Asia Tenggara masih menghadapi berbagai tantangan dalam memenuhi standar pengungkapan ESG global. Perbedaan kapasitas organisasi, kualitas data, dan kesiapan regulasi menjadi beberapa faktor yang menyebabkan kesenjangan praktik pelaporan antarnegara.
Meskipun demikian, kesadaran akan pentingnya ESG terus meningkat. Ismail et al. (2024) menemukan bahwa perusahaan publik di Malaysia semakin memahami bahwa pelaporan keberlanjutan dapat meningkatkan kualitas pelaporan perusahaan sekaligus memberikan manfaat sosial yang lebih luas. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa ESG telah berkembang menjadi agenda global yang membutuhkan perhatian serius dari kalangan akademisi, regulator, investor, dan pelaku usaha (Tan & Zhu, 2022).
ESG Disclosure sebagai Instrumen Strategis
Pada awalnya, banyak perusahaan memandang ESG disclosure sebagai bagian dari kepatuhan terhadap peraturan. Namun, pendekatan tersebut mulai bergeser. Saat ini, ESG disclosure semakin diposisikan sebagai instrumen strategis untuk membangun reputasi perusahaan, memperkuat kepercayaan pemangku kepentingan, dan meningkatkan daya tarik investasi.
Newell et al. (2023) menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi dan analisis data yang semakin rinci berpotensi meningkatkan kualitas pengukuran ESG serta menghasilkan keputusan investasi yang lebih akurat. Sementara itu, Grewal et al. (2019) menemukan bahwa kewajiban pengungkapan informasi nonkeuangan dapat memengaruhi reaksi pasar. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa investor semakin memperhatikan informasi ESG sebagai bagian dari proses evaluasi perusahaan.
Apabila dua perusahaan memiliki kinerja keuangan yang relatif setara, perusahaan dengan praktik ESG yang lebih transparan berpotensi memperoleh tingkat kepercayaan yang lebih tinggi dari investor. Dalam situasi seperti ini, ESG disclosure dapat menjadi faktor pembeda yang memengaruhi persepsi pasar terhadap prospek jangka panjang perusahaan.
Meskipun implementasi ESG terus berkembang, sejumlah tantangan tetap menjadi perhatian utama. Salah satu tantangan terbesar adalah belum adanya standardisasi yang sepenuhnya seragam dalam pengukuran dan pelaporan ESG. Perbedaan metodologi, indikator, serta standar yang digunakan sering kali menyulitkan perbandingan kinerja ESG antarperusahaan, antarindustri, maupun antarnegara.
Oncioiu et al. (2021) menjelaskan bahwa konteks industri dan lingkungan bisnis yang berbeda dapat menghasilkan praktik pengungkapan ESG yang berbeda. Akibatnya, interpretasi data ESG sering kali menjadi kurang konsisten. Tantangan tersebut semakin kompleks ketika praktik manajemen laba dan pengelolaan informasi perusahaan turut memengaruhi kualitas pelaporan keberlanjutan. Meyer dan Dutzi (2024) menunjukkan bahwa praktik earnings management dapat memengaruhi indikator tanggung jawab sosial perusahaan sehingga penilaian ESG menjadi lebih sulit dilakukan secara objektif. Kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas ESG disclosure tidak hanya bergantung pada jumlah informasi yang diungkapkan, tetapi juga pada akurasi, konsistensi, dan kredibilitas data yang disampaikan kepada publik.
Selaras dengan jumlah informasi yang diungkapkan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa ESG disclosure memiliki hubungan positif dengan kinerja keuangan perusahaan. Perusahaan yang mengintegrasikan prinsip ESG ke dalam strategi bisnisnya cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengelola risiko, menjaga hubungan dengan para pemangku kepentingan, dan menciptakan nilai jangka panjang.
Buallay (2019) menemukan bahwa perusahaan dengan tingkat pengungkapan ESG yang lebih tinggi umumnya memiliki kinerja keuangan yang lebih baik, yang tercermin melalui indikator seperti Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE). Temuan serupa juga disampaikan oleh Cao dan Hanafiah (2024), yang menunjukkan bahwa komitmen terhadap prinsip ESG dapat menghasilkan manfaat ekonomi berkelanjutan dalam jangka panjang.
Meski demikian, dampak ESG tidak selalu seragam di setiap sektor industri. Penelitian Ponce dan Wibowo (2023) menunjukkan bahwa pada sektor perbankan di Asia Tenggara, pengungkapan ESG berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan. Namun, besarnya pengaruh tersebut berbeda antard industri. Temuan ini mengindikasikan bahwa karakteristik sektor usaha tetap menjadi faktor penting dalam menentukan efektivitas implementasi ESG.
Perkembangan ESG
Hubungan antara ESG dan kinerja keuangan juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan regulasi di masing-masing negara. Buallay et al. (2020) menemukan bahwa perusahaan di negara maju memperoleh manfaat yang lebih besar dari ESG disclosure, termasuk akses pendanaan yang lebih mudah dan biaya modal yang lebih rendah.
Sebaliknya, perusahaan di negara berkembang sering menghadapi berbagai hambatan, seperti keterbatasan infrastruktur pendukung, kualitas regulasi yang belum optimal, serta rendahnya standar pelaporan keberlanjutan. Meskipun ESG disclosure tetap memberikan dampak positif terhadap kinerja keuangan, manfaat yang diperoleh belum sebesar manfaat yang dirasakan perusahaan di negara maju (Buallay et al., 2020).
Penelitian Ellili (2022) juga menunjukkan bahwa tata kelola perusahaan memiliki pengaruh yang lebih dominan terhadap kinerja ESG di negara berkembang dibandingkan dengan di negara maju. Selain itu, Zhang dan Zhang (2023) menjelaskan bahwa sistem pelaporan ESG yang lebih terstruktur dan transparan di negara maju membantu perusahaan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar. Sebaliknya, perusahaan di negara berkembang masih menghadapi tantangan terkait transparansi dan akuntabilitas ESG (Bhattacharya & Sharma, 2019).
Perkembangan ESG disclosure mencerminkan perubahan mendasar dalam cara perusahaan dinilai oleh pasar. Transparansi keberlanjutan kini menjadi faktor yang semakin diperhatikan oleh investor, regulator, dan masyarakat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ESG disclosure memiliki hubungan positif dengan kinerja keuangan perusahaan, meskipun tingkat pengaruhnya berbeda antarsektor industri dan wilayah geografis.
Ke depan, kualitas pelaporan ESG akan menjadi faktor yang semakin menentukan daya saing perusahaan. Organisasi yang mampu menghasilkan pengungkapan ESG yang transparan, kredibel, dan relevan berpeluang memperoleh kepercayaan pasar yang lebih tinggi, akses pendanaan yang lebih baik, serta posisi yang lebih kuat dalam menghadapi dinamika bisnis yang terus berubah. Dengan demikian, ESG disclosure tidak lagi dapat dipandang sebagai kewajiban administratif semata, melainkan sebagai bagian dari strategi penciptaan nilai jangka panjang perusahaan








