Sejak dua dekade terakhir, perusahaan dituntut untuk memenuhi kebutuhan beragam pemangku kepentingan yang memperhatikan nilai perusahaan. Mereka ingin memahami pendekatan dan kinerja perusahaan dalam mengelola keberlanjutan termasuk aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial serta potensi nilai yang tercipta dari pengelolaan tersebut.
Selain menyediakan informasi keuangan untuk pemegang saham, perusahaan juga perlu memublikasikan informasi non-keuangan. Pelaporan tanggung jawab sosial adalah komunikasi mengenai tanggung jawab perusahaan terhadap aspek sosial dan lingkungan di sekitar usaha. Hal ini mencerminkan bahwa perusahaan berkewajiban memberikan pertanggungjawaban tahunan atas kinerja sosial dan lingkungan mereka sebagaimana mereka menyampaikan informasi keuangan kepada pemegang saham.
Sebuah survei oleh KPMG menunjukkan bahwa pertumbuhan jumlah perusahaan yang menerbitkan laporan lingkungan, sosial, atau laporan keberlanjutan selain laporan keuangan tahunan cukup signifika. Hampir lebih dari separuh dari 250 perusahaan terbesar dunia menerbitkan laporan keberlanjutan (White, 2005). Angka pelaporan tinggi di negara-negara maju seperti Prancis, Jerman, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat. Tingkat pelaporan tertinggi terdapat pada sektor-sektor tertentu, misalnya kimia dan sintetis, farmasi, elektronika dan komputer, otomotif, serta minyak dan gas, karena aktivitas perusahaan di sektor-sektor tersebut sensitif terhadap lingkungan (Choi, 2006).
Meningkatnya kesadaran lingkungan global mengarahkan perhatian perusahaan pada sensitivitas lingkungan. Perubahan iklim dan pemanasan global menjadi perhatian utama terkait kinerja perusahaan. Kondisi ini mendorong perusahaan untuk memberi perhatian lebih terhadap lingkungan di sekitarnya. Keuntungan tinggi tidak lagi menjadi satu-satunya variabel penentu keberhasilan bisnis. Artinya, menjual produk atau memberi layanan harus diiringi dengan upaya menangani tantangan perubahan lingkungan seperti pemanasan global, layanan kesehatan, kemiskinan, dan penghematan energi.
Tren Pelaporan Keberlanjutan
Selain itu, banyak pemimpin bisnis multinasional sudah menunjukkan bahwa perusahaan paling sukses di masa depan adalah mereka yang bersedia meluangkan waktu dan usaha untuk memasukkan tanggung jawab sosial ke dalam model bisnis mereka.Oleh karena itu, banyak perusahaan multinasional mulai memandang serius pelaporan keberlanjutan.
Istilah laporan keberlanjutan ini dipakai untuk mencakup pengungkapan komitmen perusahaan terhadap pembangunan berkelanjutan. Banyak perusahaan di seluruh dunia yang baru-baru ini merilis laporan keberlanjutan menunjukkan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan. Tanggung jawab terhadap aspek lingkungan dan sosial yang dimiliki perusahaan terhadap masyarakat dianggap terkait dengan pembangunan berkelanjutan.
Selain meningkatnya kesadaran lingkungan global dan kampanye pembangunan berkelanjutan, tren kenaikan pelaporan keberlanjutan juga didukung oleh bertambahnya pedoman yang disediakan oleh berbagai organisasi pemerintah dan badan industri (Basamalah et al, 2005). Global Reporting Initiative (GRI) adalah salah satu di antaranya. GRI adalah organisasi berbasis jaringan yang menjadi pelopor dalam pengembangan kerangka pelaporan keberlanjutan. Banyak organisasi mengikuti kerangka dan standar pengungkapan laporan keberlanjutan menurut GRI.
Perspektif keberlanjutan menyediakan kerangka untuk menciptakan nilai yang mencakup pencapaian keuntungan yang memadai sekaligus memenuhi permintaan kelompok pemangku kepentingan yang beragam (Lopez et al, 2007). Terdapat pengakuan yang berkembang di kalangan analis investasi bahwa sejumlah pendorong bisnis yang berada di hulu laporan laba-rugi perusahaan termasuk faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola berkontribusi terhadap kinerja keuangan jangka panjang dan hasil investasi (KPMG, 2008).
Di sisi lain, ada pula persepsi bahwa organisasi menghasilkan laporan keberlanjutan terutama sebagai latihan hubungan masyarakat untuk memberikan kesan peduli terhadap isu sosial dan lingkungan (Hubbard, 2008).
Dampak Laporan Keberlanjutan
Dengan mengungkapkan laporan keberlanjutan, organisasi akan memperoleh dampak positif yang bersifat umum, dengan tujuan memenuhi kebutuhan berbagai pemangku kepentingan sekaligus mendapatkan manfaat dari perspektif operasional, keuangan, dan reputasi (Blyth, 2005, in Lopez et al, 2007). Investor semakin mencari peluang untuk berinvestasi pada investasi yang bertanggung jawab secara sosial (Socially Responsible Investments/SRI) pada perusahaan-perusahaan yang menerapkan praktik sosial dan lingkungan yang baik.
Indeks khusus telah dibentuk di negara maju seperti Kinder dan Dow Jones Sustainability Index di AS untuk membantu investor yang ingin menanamkan modal di perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial. Perkembangan ini menunjukkan bahwa tekanan untuk pelaporan keberlanjutan akan terus meningkat.
Perusahaan dan investor mengakui bahwa berinvestasi sesuai prinsip keberlanjutan memiliki kapasitas untuk menciptakan nilai jangka panjang (Bebbington, 2001). Prinsip-prinsip ini menjadi elemen pembeda dalam penyusunan portofolio investasi, karena pemangku kepentingan percaya bahwa praktik tanggung jawab sosial perusahaan yang terakreditasi menghasilkan kinerja ekonomi-keuangan yang baik (Lopez et al, 2007).
Dapat digeneralisasi bahwa laporan keberlanjutan memang memiliki kaitan dengan kinerja perusahaan. Namun, analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa hanya pengungkapan kinerja sosial yang memiliki hubungan dengan kinerja perusahaan. Bagi perusahaan, meningkatkan kinerja keberlanjutan adalah penting bahkan sama pentingnya dengan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Keberlanjutan berarti pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Artinya, dalam menjalankan bisnis, perusahaan perlu memperhatikan kebutuhan generasi mendatang.
Konsumsi yang dilakukan oleh perusahaan sebagai input untuk memproduksi dan menyediakan barang dan jasa seharusnya tidak berdampak negatif pada kualitas konsumsi generasi mendatang. Penting diingat, terutama bagi perusahaan, bahwa menghasilkan laba bukanlah satu-satunya tujuan usaha. Kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan menjadi aspek penting dalam menjalankan bisnis untuk meningkatkan reputasi perusahaan, meningkatkan profitabilitas, dan membawa manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan.
Jelas bahwa pemangku kepentingan seperti karyawan, pemasok, pemerintah, kelompok aktivis, investor, dan komunitas di sekitar bisnis sangat penting untuk diperhatikan. Tanpa kredibilitas dan kepercayaan yang diberikan oleh mereka, usaha tidak mungkin berjalan. Selain itu, dunia sekarang menghadapi masalah pemanasan global dan perubahan iklim. Kesadaran perusahaan terhadap masalah-masalah tersebut menjadi suatu keharusan. Oleh karena itu, selain meningkatkan profitabilitas, perusahaan juga harus bertanggung jawab dalam mengelola keberlanjutan.
Bagi investor, penting untuk selektif dalam membuat keputusan investasi. Selain mengambil keputusan berdasarkan informasi kinerja keuangan, akan lebih baik jika investor juga mempertimbangkan kinerja perusahaan dalam mengelola keberlanjutan. Mereka sebaiknya memasukkan aspek non-keuangan ini dalam keputusan investasi dan pemberian kredit.
Berinvestasi pada perusahaan yang menguntungkan sekaligus bertanggung jawab secara sosial lebih baik dibandingkan berinvestasi pada perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi namun mengabaikan lingkungan. Profitabilitas tinggi mungkin tampak menarik di mata sebagian pemangku kepentingan, yaitu investor, sedangkan kinerja keberlanjutan yang tinggi akan tampak baik di mata seluruh pemangku kepentingan.








