Pratama-Kreston Tax Research Center
No Result
View All Result
Minggu, 28 Juni 2026
  • Login
  • Register
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
      • Survei Objek Pajak Daerah
      • Survey Efektivitas Penyuluhan Pajak Daerah
      • Survei Kepuasan Masyarakat
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami
  • INDONESIA
Pratama-Kreston Tax Research Center
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
      • Survei Objek Pajak Daerah
      • Survey Efektivitas Penyuluhan Pajak Daerah
      • Survei Kepuasan Masyarakat
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami
  • INDONESIA
Pratama-Kreston Tax Research Institute
No Result
View All Result

Krisis Iklim Adalah Cermin Moral di Tengah Kapitalisme Hijau

Nisa'ul HaqbyNisa'ul Haq
22 Mei 2025
in Artikel, ESG
Reading Time: 3 mins read
134 1
A A
0
Krisis Iklim Adalah Cermin Moral di Tengah Kapitalisme Hijau
155
SHARES
1.9k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Krisis iklim tidak hanya mencerminkan ketidakstabilan ekosistem global, tetapi juga mengungkap kegagalan moral dalam sistem sosial dan ekonomi kita saat ini. Di tengah gencarnya narasi kapitalisme hijau, yang menjanjikan pertumbuhan berkelanjutan melalui inovasi ramah lingkungan, krisis ini menunjukkan bahwa solusi teknologi tanpa disertai perubahan nilai dan struktur hanya akan menjadi lapisan yang terlihat cantik di permukaan.

Dalam konteks ini, krisis iklim bukan lagi hanya soal angka, suhu, atau emisi. Hal ini menjadi cermin moral yang memaksa kita bertanya ulang, siapa yang diuntungkan, siapa yang dirugikan, dan sistem seperti apa yang selama ini kita pelihara atas nama kemajuan?

Dimensi Moral dalam Krisis Iklim

Laporan IPCC pada 2023 menegaskan bahwa pemanasan global telah mencapai 1,1°C di atas level pra-industri dan akan melampaui 1,5°C dalam dekade ini jika tidak ada pengurangan emisi besar-besaran secara cepat dan menyeluruh.

Namun krisis ini tidak bisa sepenuhnya dipahami hanya melalui grafik dan angka. Masyarakat di garis depan perubahan iklim—petani kecil, masyarakat adat, dan penghuni wilayah pesisir—mengalami langsung trauma fisik dan sosial akibat banjir, kekeringan, dan bencana alam ekstrem. Sayangnya, pengalaman mereka kemungkinan besar tak terdengar dalam forum pengambil kebijakan global yang justru lebih didominasi oleh negara-negara maju dan industri besar, walaupun mereka seringkali menyebut-nyebutkan bahwa perserikatannya telah mewakili suara masyarakat.

Lebih ironis, tanggung jawab iklim kerap dialihkan ke individu melalui kampanye “jejak karbon pribadi”, yang awalnya dipopulerkan oleh perusahaan minyak BP pada 2004. Kampanye ini terbukti merupakan strategi greenwashing untuk memindahkan beban tanggung jawab dari korporasi kepada konsumen.Padahal, laporan CDP 2017 mencatat bahwa hanya 100 perusahaan bertanggung jawab atas lebih dari 70% emisi industri global sejak 1988—termasuk ExxonMobil, Shell, Chevron, dan BP itu sendiri. Mengapa setiap individu kini harus menanggung akibat dari kerusakan yang justru diakibatkan oleh segelintir individu yang memiliki kekuasaan dan kendali atas sumber daya? Apakah ini bisa dianggap adil? Dengan demikian, krisis iklim bukan semata persoalan konsumsi, tetapi juga persoalan ketimpangan kekuasaan dan kegagalan etika dalam tata kelola global.

Dari Greenwashing ke Transformasi Sistemik

Narasi kapitalisme hijau menjanjikan bahwa inovasi akan menyelamatkan kita: kendaraan listrik, bioenergi, dan kemasan ramah lingkungan. Namun dalam banyak kasus, inovasi itu digunakan untuk mempertahankan sistem yang sama—bukan untuk mengubahnya.

Greenwashing menjadi taktik utama banyak korporasi, dengan mengadopsi simbol-simbol “hijau” tanpa mengubah proses produksi yang eksploitatif. Perubahan kemasan, offset karbon, atau pemasangan panel surya simbolis tak menyentuh akar masalah: struktur ekonomi berbasis pertumbuhan tak terbatas di planet yang terbatas.

Lebih mengejutkan lagi, menurut laporan IMF tahun 2023, subsidi eksplisit dan implisit untuk bahan bakar fosil global mencapai USD 7 triliun—hampir 7,1% dari PDB global. Sebagian besar berasal dari harga energi yang tidak mencerminkan biaya lingkungan dan sosialnya.

Jika subsidi ini tidak segera dialihkan ke energi bersih, solusi iklim hanya akan menjadi slogan kosong. Oleh karena itu, solusi terkait hal ini setidaknya perlu mencakup:

  • Reformasi fiskal dan pajak karbon yang memaksa pelaku industri membayar kerusakan yang mereka timbulkan
  • Investasi publik pada sistem energi terbarukan, transportasi massal, dan ketahanan pangan komunitas
  • Perubahan budaya konsumsi yang mengedepankan keseimbangan dan keadilan, bukan hanya efisiensi

Yang kita butuhkan hari ini bukan sekadar produk baru, melainkan sistem insentif baru—yang benar-benar menempatkan regenerasi di atas eksploitasi, dan solidaritas di atas akumulasi. Krisis iklim bukan hanya soal lingkungan, tapi juga soal nilai dan arah. Krisis ini merupakan cermin moral yang memantulkan siapa kita sebenarnya, dan menguji jenis peradaban seperti apa yang ingin kita wariskan ke generasi berikutnya.

Tanpa keberanian untuk mengakui bahwa sistem yang ada telah gagal, dan tanpa kemauan untuk meninggalkan kenyamanan palsu dari solusi setengah hati, retorika hijau akan tetap menjadi sekadar kampanye kosong di tengah laju kerusakan yang yang semakin nyata. Bukan teknologi yang kita kurang, melainkan arah—dan arah itu hanya akan muncul ketika nilai-nilai kemanusiaan, bukan laba, menjadi dasar dari setiap pengambilan keputusan.


Informasi Jasa Pratama Institute

Penerapan ESG dilaporkan dalam laporan keberlanjutan perusahaan yang wajib dibuat setiap tahunnya. Jika Anda ingin memastikan laporan keberlanjutan perusahaan Anda disusun secara profesional dan menarik, kami di Pratama Institute hadir untuk membantu Anda. Dengan pengalaman dan keahlian dalam penyusunan laporan tahunan dan/atau laporan keberlanjutan yang sesuai dengan standar terbaik, kami menghadirkan dokumen yang informatif sehingga bisa mencerminkan identitas perusahaan Anda. Hubungi kami untuk solusi laporan keberlanjutan yang ciamik!

Tags: ESGKebijakanKonsultan ESGKonsultan Sustainability ReportPendampingan ESGsosialSustainability Report
Share62Tweet39Send
Previous Post

7 Pekerjaan Rumah Pimpinan Baru Ditjen Pajak

Next Post

Menimbang Insentif Fiskal Pajak Hiburan

Nisa'ul Haq

Nisa'ul Haq

Related Posts

Metabo Law
Artikel

Pajak Gendut dari Jepang (Metabo Law)

26 Juni 2026
Jasa titip
Artikel

Jastip Luar Negeri Terjepit Dua Arah

25 Juni 2026
Ilustrasi PKP menghitung pajak
Artikel

Syarat Menjadi PKP dan Kewajiban Fundamentalnya

24 Juni 2026
Rupiah melemah
Artikel

Keuangan Indonesia 2026 Tertekan, Apa Penyebabnya?

23 Juni 2026
Rumah
Artikel

Fenomena Doom Spending, Gen Z Pasrah Beli Rumah

22 Juni 2026
Ilustrasi penerimaan pajak
Analisis

Penerimaan Pajak Melesat, Sinyal Ekonomi Menguat?

18 Juni 2026
Next Post
Menimbang Insentif Fiskal Pajak Hiburan

Menimbang Insentif Fiskal Pajak Hiburan

Peneliti PRINS Berbagi Pandangan terkait Optimalisasi Pajak Hiburan

Peneliti PRINS Berbagi Pandangan terkait Optimalisasi Pajak Hiburan

Briefing ASRRAT 2025 Tegaskan Kriteria Baru

Briefing ASRRAT 2025 Tegaskan Kriteria Baru

Please login to join discussion

Instansi Anda memerlukan jasa berupa kajian kebijakan fiskal, pajak dan retribusi daerah, penyusunan naskah akademik, ataupun jasa survei?

Atau, Perusahaan Anda membutuhkan pendampingan dalam menyusun Laporan Tahunan (Annual Report) atau Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report)?

Konsultasikan kepada ahlinya!

MULAI KONSULTASI

Popular News

  • Jika Suami Tidak Berpenghasilan, Berapa Besarnya PTKP Istri?

    Jika Suami Tidak Berpenghasilan, Berapa Besarnya PTKP Istri?

    1564 shares
    Share 626 Tweet 391
  • Batas Waktu Pengkreditan Bukti Potong PPh Pasal 23

    1134 shares
    Share 454 Tweet 284
  • Apakah Jasa Angkutan Umum Berplat Kuning Dikenai PPN?

    1017 shares
    Share 407 Tweet 254
  • Iuran BPJS dikenakan PPh Pasal 21?

    914 shares
    Share 366 Tweet 229
  • Apakah Pembelian Domain Website dikenakan PPh Pasal 23?

    894 shares
    Share 358 Tweet 224
Copyright © 2025 PT Pratama Indomitra Konsultan

Pratama Institute

Logo Pratama Indomitra
  • Antam Office Tower B Lt 8 Jl. TB Simatupang No. 1 Jakarta Selatan Indonesia 12530
  • Phone : (021) 2963 4945
  • [email protected]
  • pratamaindomitra.co.id

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Sign Up with Google
OR

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami

© 2025 Pratama Institute - All Rights Reserved.